Saksi Bisuku
karya : Muhammad Miftachur Rahmat
Awan dilangit ini semakin tebal dan menghitam. Suara gemuruh sudah tak lagi terdengar pelan. Angin berhembus membawa hawa dingin serta dedaunan kering yang gugur jatuh ketanah , terpontang panting tak ada arah , hanya pasrah kemana angin mau membawanya.
Dibawah pohon yang ada di tengah tengah taman ini , Harum duduk sambil merapikan rambutnya yang terurai tertiup angin . Matanya memandang tampa arah , lamunannya menandakan kekosongan jiwa.
Tetesan air kecil mulai menuruni bumi . Harum terlihat menatap lurus kelangit yang kelabu, membiarkan tetsan air ini membasahi tubuhnya .
" Aku suka saat saat ini , dimana hanya ada aku dan hujan ." Suara Harum lirih.
Hujhan hari ini semakin deras menerpahi tubuh mungil harum yang mulai menundukkan kepalanya.
" saat hujan adalah saat yang tepat untukku meneteskan air mataku, karena takkan ada seorang pun yang tahu aku menangis." kata Harum yang berusaha menegarkan hatinya.
Hanya hujan ini yang menjadi SAKSI BISU perempuan mungil berambut panjang lurus ini. Perempuan mungil ini menahan perasaan yang mendesak lubuk hati yang leleah akan perjalanan hidup ini.
Hidup yang kosong . Tak ada kasih sayang yang tergores dikehidupannya. Semuanya hambar dirasakan. Tak seperti perempuan seumurannya yang bisa tertawa bahagia bersama keluarganya , khususnya orang tuanya.
Harum, perempuan umur 17 ini hanya bisa terdiam , sepi , sendiri , orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing.
tiap harinya orang tua Harum pulang larut malam, tidur, dan berangkat kerja kembali sesaat setelah matahari baru beranjak dari tempat tidurnya.
Tak ada perhatian yang terlontar dari mulut orang tuanya. Yang dipersembahkannya hanyalah materi, materi ,dan materi.
" Ayah,, Bunda,, Aku butuh kalian,,, " suara itu terlontar bersamaan dengan deraian airmata, airmata yang tersembunyi dibalik tirai hujan.
Kehidupan Harum serasa seperti burung cantik yang terkurung dalam sangkar emas yang indah. Tak ada cara untuk terbang lepas dan bebas dari sini.
" Apa kalian tahu ayah,, Bunda,,, disini aku kesepian,," setiap hari kata kata itu terucap dari bibir tipis Harum, seakan tak berdaya melalui hari harinya.
Terkadang sekejapHarum berfikir tuk meninggalkan dunia ini, atau menelan beberapa narkotika agar rasa resah yang tinggal dalam hatinya sementara bisa menghilang. Harum semakin terbawa dalam pemikiran panjangnya, pemikiran yang tak menginginkan namanya Harum menjadi ternodai karena kelakuan bodoh yang sempat terlintas di otaknya itu.
Harum hanya menginginkan kebahagiaan yang seutuhnya, bukan kebahagiaan yang semu seperti pelangi, hanya menimbulkan kebahagiaan sesaat, lalu menghilang tak berbekas, tak bisa dicari kemana pelangi itu pergi.
Hujan sudah puas membuat becek tanah bumu, segeralah matahari mengintip disela sela tumpukan awan yang membumbung tinggi di langit.
Harum juga sudah ingin beranjak melangkahkan kakinya kembali kesangkar emas yang indah dan hampa akan kasih sayang. Berharap semua ini hanya mimpi sesaat, namun Harum menyadari ini bukanlah fatamorgana
Perlahan Harum mulai menapaki jalanan yang tergenangi air hujan, mencoba menciptakan senyuman palsu dalam wajahnya untuk menyembunyikan miliyaran airmatanya, agar semua orang dirinya sudah hidup bahagia bersama limpahan harta. Tetapi lihatlah lebih dekat, ada airmata disela sela mata bening Harum.
Dibawah lukisan tuhan Harum berlalu . Pergi dan mulai menghilang, dengan kesakitan hati dan airmata yang menemaninya.
Dibawah pohon yang ada di tengah tengah taman ini , Harum duduk sambil merapikan rambutnya yang terurai tertiup angin . Matanya memandang tampa arah , lamunannya menandakan kekosongan jiwa.
Tetesan air kecil mulai menuruni bumi . Harum terlihat menatap lurus kelangit yang kelabu, membiarkan tetsan air ini membasahi tubuhnya .
" Aku suka saat saat ini , dimana hanya ada aku dan hujan ." Suara Harum lirih.
Hujhan hari ini semakin deras menerpahi tubuh mungil harum yang mulai menundukkan kepalanya.
" saat hujan adalah saat yang tepat untukku meneteskan air mataku, karena takkan ada seorang pun yang tahu aku menangis." kata Harum yang berusaha menegarkan hatinya.
Hanya hujan ini yang menjadi SAKSI BISU perempuan mungil berambut panjang lurus ini. Perempuan mungil ini menahan perasaan yang mendesak lubuk hati yang leleah akan perjalanan hidup ini.
Hidup yang kosong . Tak ada kasih sayang yang tergores dikehidupannya. Semuanya hambar dirasakan. Tak seperti perempuan seumurannya yang bisa tertawa bahagia bersama keluarganya , khususnya orang tuanya.
Harum, perempuan umur 17 ini hanya bisa terdiam , sepi , sendiri , orang tuanya sibuk dengan pekerjaan mereka masing masing.
tiap harinya orang tua Harum pulang larut malam, tidur, dan berangkat kerja kembali sesaat setelah matahari baru beranjak dari tempat tidurnya.
Tak ada perhatian yang terlontar dari mulut orang tuanya. Yang dipersembahkannya hanyalah materi, materi ,dan materi.
" Ayah,, Bunda,, Aku butuh kalian,,, " suara itu terlontar bersamaan dengan deraian airmata, airmata yang tersembunyi dibalik tirai hujan.
Kehidupan Harum serasa seperti burung cantik yang terkurung dalam sangkar emas yang indah. Tak ada cara untuk terbang lepas dan bebas dari sini.
" Apa kalian tahu ayah,, Bunda,,, disini aku kesepian,," setiap hari kata kata itu terucap dari bibir tipis Harum, seakan tak berdaya melalui hari harinya.
Terkadang sekejapHarum berfikir tuk meninggalkan dunia ini, atau menelan beberapa narkotika agar rasa resah yang tinggal dalam hatinya sementara bisa menghilang. Harum semakin terbawa dalam pemikiran panjangnya, pemikiran yang tak menginginkan namanya Harum menjadi ternodai karena kelakuan bodoh yang sempat terlintas di otaknya itu.
Harum hanya menginginkan kebahagiaan yang seutuhnya, bukan kebahagiaan yang semu seperti pelangi, hanya menimbulkan kebahagiaan sesaat, lalu menghilang tak berbekas, tak bisa dicari kemana pelangi itu pergi.
Hujan sudah puas membuat becek tanah bumu, segeralah matahari mengintip disela sela tumpukan awan yang membumbung tinggi di langit.
Harum juga sudah ingin beranjak melangkahkan kakinya kembali kesangkar emas yang indah dan hampa akan kasih sayang. Berharap semua ini hanya mimpi sesaat, namun Harum menyadari ini bukanlah fatamorgana
Perlahan Harum mulai menapaki jalanan yang tergenangi air hujan, mencoba menciptakan senyuman palsu dalam wajahnya untuk menyembunyikan miliyaran airmatanya, agar semua orang dirinya sudah hidup bahagia bersama limpahan harta. Tetapi lihatlah lebih dekat, ada airmata disela sela mata bening Harum.
Dibawah lukisan tuhan Harum berlalu . Pergi dan mulai menghilang, dengan kesakitan hati dan airmata yang menemaninya.
-SELESAI-
PENULIS
Muhammad miftachur r
17 november 2011
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
membutuhkan saran dan kritik yang membangun